Saya adalah Orang Bodoh

Alasan mengapa saya bangga menjadi orang bodoh:

  • Orang bodoh itu tidak berpikir panjang

Keberanian adalah kuncinya, orang bodoh itu langsung bertindak, tidak banyak berpikir. Orang pintar selalu berpikir panjang, menimbang-nimbang baik buruknya, dan selalu perhitungan dengan segala sesuatu. Orang pintar selalu ketinggalan hal-hal baru yang dapat dikerjakan. Mungkin orang pintar lupa dengan kalimat “Siapa cepat, dia dapat”.


  • Orang bodoh cuma punya sedikit ide

Orang pintar akalnya banyak, punya ide di mana-mana, banyak hal yang ingin dikerjakan. Orang pintar kebanyakan ide sampai bingung harus mulai dari mana (dipikir panjang lagi). Karena saya orang bodoh, saya cuma punya sedikit ide, mungkin hanya satu ide, tapi saya fokus untuk mewujudkan ide tersebut.


  • Orang bodoh punya mimpi yang besar

Analisis tinggi yang dilakukan oleh orang pintar selalu bermuara pada mungkin/tidak mungkin dilakukan. Orang pintar hanya punya mimpi yang menurut logikanya dapat dilakukan. Orang bodoh bebas bermimpi, mimpi yang sangat besar, bahkan mimpi yang tidak mungkin terjadi menurut orang pintar.


  • Orang bodoh tidak berfikir negatif

Pengetahuan yang luas membuat orang pintar menghitung banyak resiko, bahkan resiko yang mungkin tidak akan terjadi. Dengan banyaknya referensi resiko yang didapat membuat orang pintar semakin takut untuk memulai. Orang bodoh tidak mengerti jika tindakan yang dilakukannya itu penuh resiko. Orang bodoh pikirannya sederhana: lakukan yang terbaik, positif thinking, dan tidak usah memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.


  • Orang bodoh tidak mudah menyerah

Orang pintar selalu berpindah-pindah ke hal-hal yang lain ketika menghadapi suatu hambatan. Orang pintar merasa dapat melakukan segala hal karena dia pintar. Sedangkan orang bodoh tidak punya pilihan selain melalui hambatan tersebut.

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan: saya memilih menjadi orang bodoh karena saya bisa fokus untuk mewujudkan mimpi besar, selalu berpikiran positif, berani untuk bertindak, dan tidak menyerah.

Gasa Gitakassum, 010910


Ditulis pada Renungan Saya | 4 Komentar

Makam Ayah

Ibu terus bersikeras menyuruhku untuk pergi mengunjungi makam ayah. Menurutnya, mimpi yang sama selama tiga hari berturut-turut adalah sebuah pertanda. Setiap malam ibu selalu bermimpi bertemu dengan ayah.

“Pergilah anakku, mungkin saja ini permintaan ibu yang terakhir,” kata ibu yang sudah renta dan sering sakit-sakitan.

Permohonan tersebut semakin meluluhkan hatiku. Aku tak kuasa melihat air matanya. Berat rasanya jika harus kembali lagi ke tempat itu, tapi inilah bentuk baktiku kepada orang tua.

Makam ayah terletak di desa tempat aku dilahirkan. Desa yang sudah sepuluh tahun kami tinggalkan. Tempat yang penuh kenangan pahit, menginjakkan kaki di sana sama saja dengan menggores kembali luka yang hampir sembuh.

Kereta yang aku tumpangi melaju. Butuh 4 jam perjalanan dengan kereta untuk sampai di stasiun terdekat dengan desaku. Perjalanan belum berakhir, dari stasiun aku harus ngojek selama satu setengah jam karena jalan berlubang dan kadang berlumpur untuk sampai di tempat yang jauh di pelosok pedalaman ini. Sambil termenung di dalam kereta, teringat kembali di pikiranku, Pak Hanjaya yang dulu memusuhiku. Pak Hanjaya adalah alasan aku dan ibuku pindah ke luar kota.

Di desa itu terdapat tiga pohon beringin yang letaknya saling berdekatan. Banyak orang percaya jika berdoa di sana permintaannya akan segera terkabul, apalagi jika malam Jumat, orang-orang ramai berdatangan ke desa ini untuk sekedar berdoa maupun melakukan ritual mistik dengan berbagai sesaji. Aku dan beberapa pemuda desa tidak setuju jika keadaan ini terus-menerus berlangsung.

Suatu hari, untuk menengahi ketegangan ini, aku dan sejumlah pemuda bermusyawarah dengan para sesepuh desa yang dipimpin oleh Pak Hanjaya. Kami tidak menginginkan desa ini ramai dikunjungi orang-orang dari luar untuk melakukan pemujaan kepada pohon beringin. Namun Pak Hanjaya dan para sesepuh desa malah dengan sengaja mengelola tempat ketiga pohon beringin itu berada.

“Kamu tahu apa? Bukankah ini cara agar desa kita makmur?” tanya Pak Hanjaya.

“Tapi bukan seperti ini!” sahutku dengan keras.

“Lalu apa kalian punya rencana yang lebih baik? Bukankah tujuan kita sama, kita ingin memajukan desa ini. Banyak manfaat yang diperoleh jika kita mengelola tempat ini dengan baik. Warga desa dapat menjual berbagai kerajinan tangan tanpa harus keluar desa karena para pembeli yang datang sendiri. Kita mendapat tambahan rezeki dan desa kita menjadi terkenal,” alasan Pak Hanjaya.

“Bagaimana tanggung jawab moral kita pada kehidupan beragama? Kita ini sedang menghadapi keadaan untuk menyesatkan orang lain.”

“Bukan salah kita jika banyak orang yang percaya. Itu urusan mereka masing-masing. Kita hanya memfasilitasi agar orang-orang yang berkunjung ke desa ini merasa nyaman,” kata Pak Hanjaya yang terdiam sebentar, mungkin karena tersentak mendengar pertanyaan itu.

“Tapi…,” belum selesai aku berbicara, Pak Hanjaya langsung memotong.

“Baik, begini saja, kalian dapat menarik ongkos parkir dari tiap pengunjung yang datang kesini dan sebagian dari kalian boleh membantu kami mengurusi keperluan orang-orang yang akan melakukan ritual, mencarikan sesaji misalnya,” tawaran dari Pak Hanjaya yang berbau penyuapan.

“Kami tetap pada pendirian kami, tidak ada lagi ritual yang menyesatkan di desa ini,” kataku dengan berapi-api.

Tapi apa dayaku, musyawarah ini menemui jalan buntu. Sebagian besar warga desa berharap banyak pada perubahan yang akan dilakukan oleh Pak Hanjaya. Pak Hanjaya didukung oleh sesepuh desa dan yang paling mencengangkan beberapa pemuda desa yang tadinya menemaniku akhirnya berkhianat, luluh setelah ditawari pekerjaan yang menggiurkan dari Pak Hanjaya untuk mengelola tempat tersebut.

Aku dan para pemuda desa yang masih tidak setuju dengan hal tersebut pulang ke rumah masing-masing. Namun musyawarah masih berlangsung antara Pak Hanjaya, sesepuh desa, dan para pemuda yang berganti arah dengan disaksikan oleh warga desa. Mereka membicarakan program-program apa saja yang akan dilakukan untuk mengelola dan menjaga keberlangsungan tempat tersebut.

Beberapa hari kemudian dua dari tiga beringin tersebut hampir mati, daun-daunnya terus berguguran dan batang-batangnya mengering. Pak Hanjaya menuduh aku dan para pemuda desa yang tidak setuju dengan pengelolaan tempat ini. Ia yakin bahwa kami telah meracuni pohon-pohon beringin tersebut. Kamipun dilaporkan ke polisi, dan selama tiga hari dua malam kami ditahan dan diperiksa satu persatu. Akhirnya kami semua dapat bebas setelah tidak terdapat cukup bukti.

Pak Hanjaya terus saja menteror orang-orang yang tidak setuju dengan proyeknya, termasuk aku dan keluargaku. Ibu yang baru satu tahun menjanda menjadi tidak betah jika tetap harus tinggal di desa ini. Setiap hari pandangan sinis warga desa ditujukan kepada kami. Kami diasingkan di desa kami sendiri.

“Anakku, aku sudah tidak tahan lagi tekanan dari warga desa dan Pak Hanjaya,” kata Ibu pada suatu malam.

“Lalu kita harus bagaimana? Mengikuti kemauan Pak Hanjaya?” tanyaku.

“Kita pergi saja dari desa ini, merantau di kota, jual saja rumah ini untuk modal kita,” kata Ibu memberikan pemecahan karena sudah putus asa dengan keadaan ini.

“Ya sudah, kita jual saja rumah ini, kemudian pergi dari sini.”

***

Aku sedikit kaget melihat perubahan di stasiun yang dulunya kecil, kotor, dan kumuh kini menjadi stasiun yang megah dan ramai hilir mudik orang.

“Sudah sepuluh tahun, tentunya harus ada perubahan,” batinku dalam hati sambil tersenyum.

Tiba-tiba seseorang berpakaian rapi menghampiriku.

“Pak, mau berdoa di Pepunden Tiga Beringin ya?” tanyanya langsung.

“Eh, iya…” jawabku singkat.“Mari saya antar,” balasnya.

“Anda siapa?” aku bertanya dengan penuh curiga sambil mengamatinya dari bawah ke atas.

“Maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Anton, pemandu di sini, saya siap membantu segala keperluan anda, mulai dari penginapan hingga mencarikan segala syarat yang diperlukan untuk berdoa nanti malam,” kata lelaki itu menjelaskan.

“Penginapan? kebetulan sekali, aku tidak perlu repot-repot numpang tidur semalam di rumah kepala desa yang mungkin saja masih mengenaliku,” pikirku dalam hati.

“Kalau begitu tolong antarkan saya ke penginapan dahulu,” perintahku.

“Baik, Pak,” jawab lelaki itu dengan tersenyum kemudian berlari-lari kecil menghampiri mobilnya.

Kagum sekali aku melihat perubahan yang begitu banyak di sini. Modernisasi yang sangat cepat. Stasiun yang bersih dan megah. Jalan-jalan yang sudah diaspal. Tiang-tiang listrik dan telepon dikanan-kiri jalan. Akhirnya tidak sampai 30 menit aku sudah sampai di desaku.

Hari sudah mulai sore. Aku rebah sebentar di kamar untuk melepas penat setelah duduk beberapa jam di dalam kereta. Sejurus kemudian aku teringat tujuan utamaku di sini; mengunjungi makam ayahku.

Setelah mencuci muka dan merapikan pakaian, aku bergegas keluar dari penginapan. Dunia seperti berhenti berputar, nafasku berhenti sejenak. Di lobi penginapan aku bertemu dengan Pak Hanjaya. Ternyata pemilik penginapan ini adalah Pak Hanjaya. Sepertinya ia masih mengenaliku dan sudah tidak memusuhiku.

“Mas Wawan, sudah lama sekali kita tidak bertemu,” sapanya ramah.

“Pak Hanjaya? Apakabar?” jawabku basa-basi.

“Mau kemana mas?” tanyanya.

“Saya kangen desa ini, makanya saya kemari. Ini sekarang saya mau jalan-jalan,” jawabku berbohong, padahal sebenarnya aku tidak ingin kembali lagi kesini. Jika Ibu tidak memintaku mengunjungi makam ayah tentu aku tidak akan di desa ini.

“Mari saya temani berjalan-jalan,” ajak Pak Hanjaya.

Aku membiarkan Pak Hanjaya menemaniku. Makam di desa ini kebetulan letaknya dekat dengan Pepunden Tiga Beringin. Mungkin Pak Hanjaya pikir aku akan berjalan-jalan mengunjungi tempat yang dulu menjadi pokok permasalahan aku dan Pak Hanjaya. Di perjalanan ia bercerita tentang pembangunan di desa ini setelah aku dan ibuku pergi. Langkahku terhenti ketika ia bercerita tentang pembangunan makam di dekat Pepunden Tiga Beringin itu.

“Tanah makam di sana sudah kami dayagunakan menjadi lebih baik agar dapat menambah kenyamanan pengunjung yang ingin berdoa di Pepunden Tiga Beringin. Semuanya sudah setuju. Kini di atas bekas tanah makam itu kami dirikan restoran,” kata Pak Hanjaya dengan penuh kebanggaan.

Perasaanku bercampur aduk. Aku bingung apa yang harus aku lakukan sekarang. Tapi yang lebih membuatku bingung adalah apa yang harus aku katakan kepada Ibu nanti…

Gasa Gitakassum, 310810


Ditulis pada Cerita Pendek | 4 Komentar